← CentriX InsightsPerspective 03 · Institutional Thinking · 6 min read

Pesantren Tidak Selalu Membutuhkan Lebih Banyak Program.

Menambah program sering terasa seperti kemajuan, padahal institusi mungkin lebih membutuhkan prioritas, ownership, dan perbaikan sistem yang sudah ada.

“Program baru menambah aktivitas; prioritas yang jelas menambah daya gerak.”

Ketika ada masalah, salah satu respons yang paling mudah dilakukan institusi adalah menambah program.

Pendaftaran menurun, dibuat program promosi baru. Kedisiplinan melemah, ditambahkan kegiatan pembinaan. Komunikasi wali kurang baik, dibuat agenda pertemuan baru. Tim dinilai kurang berkembang, disusun pelatihan tambahan. Teknologi belum optimal, diluncurkan proyek digitalisasi baru.

Program memberi kesan bergerak. Ada nama, agenda, PIC, jadwal, dan aktivitas yang dapat dilihat.

Namun pertanyaan yang lebih penting bukan “program apa lagi yang bisa dibuat?”, melainkan “apa yang sebenarnya perlu berubah?”

Aktivitas tidak selalu sama dengan kemajuan

Institusi dapat sangat sibuk tanpa menjadi lebih efektif.

Semakin banyak program berarti semakin banyak kebutuhan koordinasi, waktu, anggaran, komunikasi, administrasi, evaluasi, dan perhatian pimpinan. Jika kapasitas organisasi tetap sama, setiap tambahan aktivitas berpotensi mengambil energi dari pekerjaan yang sebenarnya lebih penting.

Dalam kondisi tertentu, program baru memang dibutuhkan. Tetapi ketika masalah utama berasal dari proses yang lemah, tanggung jawab yang tidak jelas, atau prioritas yang terlalu banyak, program baru hanya menambah lapisan di atas fondasi yang belum beres.

Misalnya, jika layanan wali santri lambat karena tidak ada alur eskalasi yang jelas, menambah forum komunikasi bulanan belum tentu menyelesaikan persoalan. Jika tim PSB tidak konsisten melakukan follow-up karena tidak ada ownership dan pencatatan yang rapi, workshop komunikasi tidak otomatis memperbaiki hasil. Jika unit saling menunggu keputusan, agenda koordinasi tambahan bisa menjadi rapat lain tanpa perubahan pada decision rights.

Program baru menambah aktivitas; prioritas yang jelas menambah daya gerak.

Mengapa institusi mudah menambah program?

Ada alasan praktis dan psikologis.

Program baru terlihat konkret. Ia memberi sinyal bahwa pimpinan merespons masalah. Dibandingkan membenahi struktur, memangkas aktivitas, memperjelas tanggung jawab, atau mengubah kebiasaan kerja, membuat program sering terasa lebih cepat dan lebih mudah diterima.

Selain itu, banyak persoalan institusi tidak memiliki solusi yang dramatis. Akar masalah bisa sangat sederhana: informasi tidak mengalir, pekerjaan tidak memiliki owner, standar tidak konsisten, data tidak dicatat, keputusan terlalu tersentralisasi, atau terlalu banyak inisiatif berjalan bersamaan.

Perbaikan seperti ini tidak selalu menghasilkan nama program yang menarik. Namun justru di sanalah kapasitas institusi sering dibangun.

Membenahi sistem membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa persoalan mungkin bukan kekurangan ide, melainkan kekurangan fokus.

Sebelum menambah, periksa yang sudah ada

Pertanyaan pertama sebaiknya bukan apa yang perlu diluncurkan, tetapi apa yang sudah berjalan dan apa hasilnya.

Apakah program yang ada masih relevan dengan prioritas institusi? Apakah tujuan setiap program jelas? Siapa pemilik hasilnya? Apakah ada indikator sederhana yang menunjukkan dampaknya? Apakah program-program tersebut saling menguatkan atau justru bersaing memperebutkan perhatian tim?

Audit sederhana sering menunjukkan bahwa masalah bukan selalu kurangnya program. Bisa jadi terlalu banyak aktivitas memiliki tujuan serupa, tetapi tidak ada satu pun yang dikelola sampai tuntas.

Dalam situasi lain, institusi memiliki program yang baik tetapi proses pendukungnya lemah. Kegiatan dirancang bagus, namun komunikasi peserta tidak rapi. Pelatihan dilakukan, tetapi tidak ada penerapan setelahnya. Sistem dibuat, tetapi tidak ada standar penggunaan. Evaluasi dikumpulkan, tetapi tidak pernah kembali menjadi keputusan.

Jika demikian, menambah program baru tidak akan mengubah pola.

Kapasitas organisasi memiliki batas

Setiap institusi memiliki kapasitas terbatas: waktu pimpinan, energi tim, anggaran, kompetensi, ruang koordinasi, dan daya perhatian.

Karena itu, strategy bukan hanya menentukan apa yang akan dilakukan. Strategy juga menentukan apa yang tidak dilakukan.

Pesantren yang ingin berkembang perlu membangun kemampuan memilih. Tidak semua ide yang baik harus dijalankan sekarang. Tidak semua masalah memerlukan inisiatif baru. Tidak semua peluang harus diambil.

Kualitas eksekusi sering meningkat ketika institusi memiliki lebih sedikit prioritas yang benar-benar dikelola.

Ini bukan berarti pesantren harus menjadi kaku atau berhenti berinovasi. Justru sebaliknya. Inovasi lebih bernilai ketika dibangun di atas disiplin prioritas dan kemampuan menuntaskan perubahan.

Dari “menambah” menuju “memperkuat”

Ada kalanya keputusan terbaik adalah memperkuat sesuatu yang sudah ada.

Alih-alih membuat kanal komunikasi baru, mungkin institusi perlu memastikan kanal sekarang konsisten dan responsif. Alih-alih membuat program PSB baru, mungkin lebih penting memperbaiki follow-up dan pengalaman kunjungan. Alih-alih menambah aplikasi, mungkin perlu menyederhanakan alur kerja. Alih-alih menambah rapat, mungkin cukup memperjelas siapa yang memutuskan apa.

Pendekatan ini mengubah cara institusi memandang progress. Progress tidak lagi diukur dari jumlah agenda, tetapi dari apakah kapasitas, proses, kualitas, dan hasil benar-benar membaik.

Lebih sedikit program bukan selalu berarti lebih sedikit ambisi. Kadang ia menunjukkan institusi mulai lebih dewasa dalam mengelola fokus.

Disiplin ini juga membantu pesantren membangun portofolio program yang lebih sehat. Pimpinan dapat membedakan program inti yang harus dijaga kualitasnya, program pendukung yang dapat disederhanakan, eksperimen yang memang perlu diuji, serta aktivitas yang sebaiknya dihentikan. Dengan begitu, evaluasi tidak hanya menanyakan apakah sebuah program terlaksana, tetapi apakah ia masih memberi kontribusi yang cukup terhadap tujuan institusi. Kemampuan menghentikan sesuatu yang tidak lagi bernilai adalah bagian dari manajemen yang sama pentingnya dengan kemampuan memulai hal baru.

CentriX Perspective

Pesantren tidak selalu membutuhkan lebih banyak program. Sering kali institusi lebih membutuhkan prioritas yang lebih tajam, proses yang lebih sederhana, ownership yang lebih jelas, dan disiplin untuk memastikan yang sudah ada benar-benar bekerja.

Sebelum menambah aktivitas, lihat kapasitas sistem yang harus menopangnya.

Jika akar masalah berada pada koordinasi, decision rights, proses, capability, atau governance, selesaikan itu terlebih dahulu. Program baru seharusnya lahir karena ada kebutuhan strategis yang jelas, bukan karena institusi perlu terlihat sedang melakukan sesuatu.

Fix before scale juga berlaku di sini: kuatkan fondasi sebelum memperbesar kompleksitas.

← PreviousTarget PSB Turun. Apakah Masalahnya Benar-Benar Promosi?Next →Pertumbuhan Pesantren Bukan Sekadar Menambah Jumlah Santri.